Girls, apakah kamu pernah merasa canggung atau malah menyembunyikan fakta kalau kamu sedang menstruasi? Sayangnya, hal ini sudah menjadi salah satu bentuk stigma negatif tentang menstruasi yang masih sering terjadi di sekitar kita. Padahal, menstruasi adalah proses biologis yang normal dan sehat. Untuk membantu menormalisasi topik ini, yuk kita kenali beberapa contoh stigma menstruasi yang sering tanpa sadar kita lakukan!
1. Menggunakan Eufemisme
Eufemisme adalah ungkapan diperhalus untuk mengganti kata-kata yang dianggap kasar. Misalnya, alih-alih menyebutkan “menstruasi”, masih ada yang lebih sering menyebut “dapet” atau “datang bulan”. Lalu, kata pengganti “pembalut” menjadi “roti Jepang” juga menjadi salah satu contoh stigma.
Penggunaan eufemisme seperti ini justru memperkuat kesan bahwa menstruasi itu tabu atau memalukan. Padahal, kata “menstruasi” dan “pembalut” adalah istilah yang wajar digunakan.
2. Malu Berdiskusi Tentang Menstruasi
Merasa malu atau menghindar saat membahas menstruasi, baik itu bersama teman, pasangan, atau keluarga juga memperkuat stigma. Banyak perempuan tumbuh dengan anggapan bahwa membicarakan tentang menstruasi itu tidak sopan. Padahal, membicarakan menstruasi secara terbuka justru penting agar melawan stigma negatif dan saling mendukung.
3. Dianggap Tidak Kompeten Saat Menstruasi
Beberapa gejala premenstrual syndrome (PMS) seperti sakit perut, mood swing, atau sakit kepala memang nyata. Namun, bukan berarti perempuan yang sedang menstruasi menjadi tidak bisa bekerja atau menjalani aktivitas dengan baik.
Sayangnya, banyak anggapan bahwa perempuan yang sedang menstruasi akan lebih emosional, agresif, lemah, atau tidak profesional. Ini bisa menjadi bentuk diskriminasi di tempat kerja maupun sekolah.
4. Menganggap Menstruasi Perlu Disembunyikan
Kamu malu saat membeli pembalut di minimarket, takut kelihatan membawa tas berisi pembalut, atau merasa tidak nyaman ingin melapor kalau butuh izin mengganti pembalut? Perasaan seperti ini muncul karena banyak perempuan dibiasakan menyembunyikan menstruasi seolah itu sesuatu yang harus dirahasiakan. Padahal, justru penting untuk memberi ruang agar perempuan bisa merasa nyaman saat sedang menstruasi.
5. Menganggap Darah Menstruasi Kotor
Darah menstruasi sering digambarkan sebagai sesuatu yang menjijikan dan kotor. Stigma ini bisa berdampak negatif pada bagaimana perempuan memandang tubuh dan kesehatannya sendiri. Faktanya, darah menstruasi berasal dari sistem reproduksi perempuan.
Yang perlu dijaga adalah kebersihan dan kesehatannya, misalnya dengan rutin mengganti pembalut dan menggunakan produk alami seperti pembalut daun sirih yang mengandung antiseptik dan menjaga pH tetap seimbang. Selain itu, kamu juga sebaiknya menghindari kebiasaan yang dapat memicu bau tidak sedap pada vagina seperti mencuci vagina dengan sabun, misalnya.
Itu dia beberapa contoh stigma negatif yang harus dilawan agar menstruasi tidak lagi dianggap memalukan. Yuk, mulai dari langkah kecil dengan bersikap terbuka, saling edukasi, dan saling toleransi dengan topik menstruasi.



