Royal Golden Eagle Membekali Petani Kelapa Sawit dengan Alternatif Penghasilan

kelapa sawit
Image Source: Asianagri.com

Hubungan Royal Golden Eagle (RGE) dengan para petani kelapa sawit memang spesial. Mereka tidak hanya mendukungnya untuk memiliki kemampuan berkebun yang baik. Lebih dari itu, RGE juga membekali dengan alternatif penghasilan.

Kelapa sawit memang menjadi salah satu sektor yang ditekuni oleh Royal Golden Eagle selain pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, serta minyak dan gas. Salah satu anak perusahaan RGE yang bergerak di bidang kelapa sawit adalah Asian Agri.

Berdiri pada 1979, Asian Agri saat ini tercatat sebagai salah satu produsen crude palm oil terbesar di Asia. Setiap tahun, mereka mampu menembus kapasitas produksi hingga satu juta ton.

Sejak masa awal berdiri, anak perusahaan grup yang berdiri dengan nama Raja Garuda Mas ini telah menjalin kemitraan erat dengan para petani kelapa sawit. Ikatan kebersamaan yang pertama dimulai dengan pelaksanaan program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) -Trans pada 1987.

Pada era 1980-an, Pemerintah Indonesia berupaya memeratakan penduduk dengan memindahkannya dari Pulau Jawa ke Sumatera dan Kalimantan. Upaya ini menghadirkan program PIR-Trans dengan bekerja sama dengan sejumlah perusahaan swasta. Nanti, perusahaan itu yang berperan sebagai pembimbing para petani untuk menjalani kehidupan di rumah barunya.

Asian Agri termasuk salah satu perintis program PIR-Trans di sektor kelapa sawit. Mereka menjalin kemitraan dengan para petani yang menjadi plasma. Sementara, mereka sendiri bertindak sebagai inti yang mendukung perkembangan petani.

Kemitraan tidak hanya dilakukan oleh Asian Agri dengan petani plasma. Belakangan, mereka semakin intens menjalin kerja sama serupa dengan para petani swadaya. Mereka didukung dan dibantu seperti halnya petani plasma.

Asian Agri bahkan secara khusus mematok target meningkatkan jumlah kemitraan dengan petani plasma. Mereka berharap pada akhir 2018, kerja sama yang dilakukan sudah mampu mencakup lahan seluas 40 ribu hektare.

Dengan kemitraan ini, Asian Agri selalu mendukung kehidupan para petani. Paling mendasar, mereka mengajari cara berkebun yang baik. Selain itu, anak perusahaan Royal Golden Eagle ini juga menyediakan berbagai hal yang dibutuhkan untuk perkebunan. Bahkan, dukungan infrastruktur demi kemudahan kehidupan petani juga diberikan.

Dukungan yang diberikan Asian Agri semakin mendalam. Mereka tidak hanya membantu segala hal terkait pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Lebih dari itu, unit bisnis RGE ini juga membantu petani untuk memiliki alternatif penghasilan.

Hal itu dilakukan oleh Asian Agri karena tahu bahwa ada momen peremajaan kelapa sawit yang mesti dialami oleh para petani. Masa ini hadir sesudah perkebunan kelapa sawit ditanam sekitar 20 tahun. Ketika sudah memasuki usia tersebut, kelapa sawit tidak lagi produktif sehingga perlu diganti dengan pohon baru.

Masa itu sangat dihindari petani. Sebab, mereka harus mengeluarkan dana khusus untuk mengganti tanaman di perkebunan. Namun, selama itu, tidak ada penghasilan karena sejak ditanam perlu waktu tiga tahun bagi kelapa sawit untuk siap dipanen.

Atas dasar itulah, penting bagi para petani untuk memiliki sumber penghasilan alternatif. Ini yang coba dijalankan oleh Asian Agri. Anak perusahaan Royal Golden Eagle ini menjalankan sejumlah program untuk membantu petani kelapa sawit memiliki pendapatan lain.

Hal ini dijalankan di Asian Agri di berbagai tempat. Salah satunya di Sumatra Utara. Pada 28-29 Juli 2018, mereka membantu para petani swadaya yang tergabung ke dalam Koperasi Anugerah Jaya Mandiri Sejahtera (AMJS) untuk mendapat sumber penghasilan alternatif pada masa peremajaan kelapa sawit.

MELATIH PETERNAKAN LELE

peternakan lele
Image Source: Asianagri.com

Asian Agri mendukung para petani kelapa sawit di AMJS dengan cara melatih beternak ikan lele. Unit perusahaan Royal Golden Eagle ini berharap petani bisa mempraktikkan dengan baik supaya menjadi sumber pendapatan alternatif.

Unit bisnis RGE ini melatih para petani berbudidaya lele dengan sistem bioflok. Untuk melakukannya, mereka mendatangkan ahli dari Komunitas Bang Lele asal Kabupaten Kampar.

“Dalam masa replanting, tentu ada potensi petani akan kehilangan sumber pendapatannya. Karena itu, kami melakukan berbagai kegiatan alternatif untuk mendapatkan pemasukan pengganti. Salah satunya melakukan pelatihan budi daya lele sistem bioflok. Harapan saya, dengan berbagai pelatihan yang dilakukan ini, petani tidak perlu takut untuk menghadapi peremajaan kebun sawitnya,” papar Head Kemitraan Asian Agri Pengarapen Gurusinga.

Ditambahkan Pengarapen, Asian Agri bakal bertindak sebagai pendamping. Mereka memfasilitasi mulai pelatihan, penyediaan bibit, hingga akhirnya ke penjualan hasil peternakan lele nanti.

Asian Agri memberi peran besar kepada Komunitas Bang Lele. Mereka yang akan membina dan mendampingi petani dalam teknis budi daya lele. Selain itu, Komunitas Bang Lele pula yang akan menampung hasil panen lele para anggota serta memasarkannya.

Menurut pelatih budi daya lele dari Komunitas Bang Lele, Barkah Tri Basuki, beternak lele sebenarnya menarik. Ini bisa menjadi sumber penghasilan tersendiri ketika diseriusi.

“Budi daya lele bernilai ekonomi tinggi. Jika diseriusi, keuntungan bersih petani per kolam diameter dua meter minimal Rp900 ribu per kolam dalam dua bulan, dengan modal Rp 3.780.000 per kolam dalam dua bulan,” kata Barkah.

Dukungan dari Asian Agri ini disambut baik oleh para petani maupun pihak desa secara umum. Ketua Koperasi AJMS, Akhmad Rizaldi Syah, mengucapkan terima kasih kepada Asian Agri dan pemerintah desa yang berkomitmen menyejahterakan para petani sawit di masa replanting. Sedangkan salah satu anggotanya, H Tawarsyah Lubis, mengaku antusias.

“Saya sangat tertarik pada komitmen Asian Agri melakukan pembinaan kepada petani,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Perlabian, Irhamsyah Lubis, mengaku sangat mendukung program pelatihan budi daya lele. Ia bersiap bakal menyinergikan dengan program yang selama ini sudah berjalan di desanya.

Secara khusus, berkaitan dengan program pelatihan budi daya lele, Irhamsyah, sudah menyediakan bibit sayuran untuk warga. Ia berharap ada sinergi dengan program tersebut. Caranya ialah memanfaatkan limbah cair lele bioflok itu untuk pupuk tanaman sayuran.

Selain mengajari budi daya lele, Asian Agri juga memfasilitasi para petani swadaya untuk melihat potensi sumber penghasilan baru lain. Mereka diajak melihat peternakan domba di Kabupaten Siak. Setelah itu, para petani juga datang melihat langsung para petani plasma yang menjalani replanting dengan dukungan unit bisnis RGE tersebut.

“Kami mencoba membuka wawasan para petani mitra untuk melihat dan mengambil kesempatan berbagai peluang income alternatif yang bisa dilakukan para petani di masa replanting. Karena itu, selain mendapatkan pelatihan budidaya lele secara bioflok, petani binaan juga kami bawa berkunjung ke sentra produsen domba di Kabupaten Siak, milik H Supatno,” ujar Koordinator Petani Swadaya Asian Agri, Hendra Jaminsyah.

Kegiatan ini diharapkan oleh Asian Agri bisa membuat para petani kelapa sawit mandiri. Mereka jadi punya sumber alternatif penghasilan yang mendukung perekonomian keluarga. Alhasil, dukungan anak perusahaan Royal Golden Eagle itu pun tidak akan sia-sia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *