Gizi Balita, Penting atau Tidak?

Memenuhi kebutuhan gizi balita merupakan kewajiban setiap orangtua. Apalagi, diusia seperti ini akan ada banyak sekali jenis gizi atau nutrisi yang dibutuhkan untuk membantu perkembangannya. Jika ada salah satu saja jenis nutrisi yang tidak terpenuhi dengan baik, maka akan berdampak buruk bagi perkembangannya. Karena itulah, orangtua akan berusaha sebisa mungkin untuk memenuhi hal ini agar anak balita mereka selalu sehat dan dapat berkembang dengan baik.

makanSeluruh gizi yang dibutuhkan oleh anak akan didapatkan dari makanan atau minuman yang dikonsumsinya. Berbeda jenis makanan maka berbeda juga kandungan gizi yang ada didalamnya. Ketika anak masih belum bisa memilih makanannya sendiri, ibu yang menyiapkan makanan akan memasukkan berbagai bahan makanan yang baik untuk memenuhi dan menyeimbangkan gizi yang masuk ke dalam tubuh. Sayangnya, begitu anak sudah cukup besar dan mulai bisa memilih makanannya sendiri, anak mulai menolak beberapa jenis makanan tertentu yang tidak disukainya.

Ketika anak menolak beberapa jenis makanan tertentu yang sebenarnya baik untuk pemenuhan gizinya dan lebih memilih untuk mengonsumsi jenis makanan kesukaannya saja, maka jenis gizi yang masuk ke dalam tubuh akan menjadi tidak seimbang. Apalagi, jika anak mengalami masalah susah makan, hal ini akan semakin memperparah kondisinya. Pada kondisi ini, banyak orangtua yang akhirnya mengganti kebutuhan makanan anak dengan susu yang dianggap mengandung berbagai gizi yang dibutuhkan anak. Padahal, hal ini tidaklah benar untuk dilakukan.

Melengkapi kebutuhan gizi anak dengan mengonsumsi susu adalah hal yang boleh dilakukan, namun bukan berarti mengganti makanan dengan susu. Anak tetap akan membutuhkan berbagai gizi yang terdapat dalam makanan, dan tidak akan mampu terpenuhi dengan baik jika hanya mengonsumsi susu. Meskipun orangtua memilih susu yang mengandung banyak jenis gizi dan dikatakan dapat memenuhi kebutuhan gizi pada anak yang susah makan, namun hal ini tetap tidak menjadi kebutuhan gizi terpenuhi. Justru anak beresiko mengalami kelebihan salah satu atau lebih jenis gizi dan kekurangan jenis gizi lainnya.

Misalnya saja ketika orangtua memilih susu tinggi protein, maka anak akan beresiko mengalami masalah kelebihan protein. Jika orangtua memilih susu tinggi kalsium, maka anak beresiko mengalami kelebihan kalsium. Selain itu, susu juga mengandung kadar gula yang cukup tinggi dan akan beresiko menyebabkan anak mengalami obesitas atau meningkatkan resiko diabetes pada anak. (Yv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *